Ukhuwah Dan Cinta di Masamba.

Daerah31 Dilihat

CLS NEWS.COM.MASAMBA RABU 23 JULI 2020 SEKERTARIS CLS NEWS DIAN RAHMANA PUTRI Memaparkan pengalamannya di posko posko para pengungsi korban banjir bandang MASAMBA DAN RADDA Beberapa hari saya berkunjung ke Masamba. Saya menyaksikan tenda-tenda pengungsian, kamar mandi darurat, dapur-dapur umum dan sembako-sembako yang terus diangkut tanpa lelah oleh para relawan kemanusiaan; ukhuwah dan cinta! Itu pesan terkuat yang saya petik selama di sana.

Saya optimis melihat fakta-fakta yang demikian unik. Kepedulian demi kepedulian mengalir dari berbagai penjuru mendengar berita duka. Sebenarnya, tidak hanya di sini, di Masamba. Saya juga melihatnya di tempat lain, di Palu, Banten, Jeneponto, Bantaeng, dll. Pesannya sama; ukhuwah dan cinta!

Ketika ada kabar duka di suatu daerah. Dengan sigap, sebagian relawan berbondong-bondong menuju tempat kejadian, mengevakuasi korban, meliput dan memberitakan kabar terkini. Sebagian yang lain meneruskan pesan, menggalang donasi lalu menyalurkan.

Setiap update kebutuhan selalu ditanggapi sigap oleh masyarakat. Di hari awal kejadian, masyarakat butuh pakaian, popok bayi, selimut dan sarung. Besoknya, jejeran mobil pengangkut pakaian dan sarung menuju titik lokasi, Masamba.

Hari kedua pun demikian. Ada kabar bahwa warga kekurangan air bersih. Kesulitan bersih diri dan memasak. Makanan instan sulit diolah karena minimnya persediaan air: “yang dibutuhkan oleh warga adalah makanan jadi; roti, biskuit, dll” besoknya jejeran mobil pick up membawa tandon penampungan air juga mengangkut barang-barang dan makanan siap konsumsi.

Pun begitu seterusnya, ketika ada kabar kekurangan di posko pengungsian. Selalu sigap ditanggapi berbagai pihak. Ini artinya; ada ukhuwah dan cinta di sana, di hati kecil masyarakat Kita, Indonesia.

Sebenarnya, kesadaran seperti ini adalah potensi besar yang Kita miliki. Dengannya, Kita tidak terlalu kesulitan jika dikelola dengan baik. Pun, tidak perlu terlalu takut dengan kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh bencana-bencana yang terjadi. Tentu karena itu tadi; ukhuwah dan cinta. Ukhuwah menjadikan setiap orang merasakan apa yang dirasakan korban dan cinta menjadikan hati Kita tergerak untuk membantu korban.

Kenapa relawan selalu rindu untuk berada di lapangan? Padahal mereka sama sekali tidak mendapatkan imbalan? Tidak. Bukan karena relawan punya orientasi untuk memberi. Ada yang lebih dari itu; ketenangan batin; ketenangan yang tidak Kita temukan di hotel-hotel mewah atau bahkan di tempat-tempat hiburan.

Itulah mengapa setiap Kita mesti berterima kasih kepada para korban. Karena sejatinya bukan Kita yang memberi tapi Kitalah yang menerima; bukan Kita yang membantu, tapi Kitalah yang terbantu — Kita terbantu untuk bisa bebas dari tekanan hiruk pikuk kota. Terbantu untuk melupakan segala kepenatan hidup. Dan yang terpenting, terbantu untuk bisa segera sadar: bahwa semua hanyalah sementara!

Doa terbaik dan Jazakallah Khairan dari Kami yang belum sempat ikut terlibat banyak di lapangan kepada para relawan dan korban yang terus berdedikasi untuk kebaikan. Semoga Allah ganjar dengan sebaik-baik ganjaran. Aamiin.

Oiya, video berikut adalah sedikit dokumentasi dan bukti bahwa dana yang pernah digalang benar-benar telah disalurkan oleh para relawan, bukan buat bangga-banggaan. Itu saja, Teman.


Masamba, Rabu 22 Juli 2020

Penuis – Dian Rahmana Putri
(Relawan Sedekah Terus Project)

#KITA INDONESIA

#DUKA LUTRA DUKA KITA SEMUA

#LutraBangkit

#LUTRA BISA!!!

Komentar